Lapas Perempuan Mamuju Perkuat Pembinaan Rohani melalui Materi Thaharah dan Fiqih Jenazah
Tingkatkan Pemahaman Keagamaan, LPP Mamuju Berikan Materi Thaharah dan Fiqih Jenazah kepada WBP
Dalam kegiatan ini, Lapas Perempuan Mamuju menggandeng pemateri dari Pondok Pesantren As'adiyah Raudhatu Thalibin, yakni Bapak Takdir Maulana Arsyad, yang memberikan materi penting tentang Thaharah (mandi bersih) serta tata cara memandikan dan mengkafani jenazah. Kedua materi tersebut merupakan bagian dari ilmu fiqih yang sangat fundamental dalam kehidupan umat Islam, sekaligus menjadi sarana pembentukan karakter religius bagi warga binaan.
Selama sesi penyampaian materi, pemateri memberikan penjelasan yang mendalam mengenai makna kebersihan dalam Islam, jenis-jenis hadas, langkah-langkah mandi wajib, serta pentingnya menjaga kesucian diri. Tak hanya teori, kegiatan juga dilengkapi dengan penjelasan detail terkait proses pengurusan jenazah, mulai dari pemulasaraan, memandikan, mengkafani, hingga adab dan tanggung jawab dalam memperlakukan jenazah. Pemaparan yang terstruktur tersebut membuat warga binaan lebih mudah memahami sekaligus menghayati nilai-nilai keagamaan yang diajarkan.
Warga binaan tampak mengikuti kegiatan dengan penuh perhatian, menunjukkan antusiasme melalui tanya jawab dan diskusi santai dengan pemateri. Banyak dari mereka yang merasa kegiatan ini memberikan wawasan baru yang sebelumnya belum mereka pahami secara mendalam.
Kepala Lapas Perempuan Mamuju, Reva Shilvia Devi, menyampaikan “Pembinaan keagamaan ini bukan hanya sebagai rutinitas, tetapi merupakan upaya untuk membentuk karakter warga binaan agar menjadi pribadi yang lebih baik. Materi seperti Thaharah dan tata cara pengurusan jenazah adalah bagian dari pengetahuan penting yang selayaknya dipahami setiap umat Islam. Kami berharap kegiatan ini memberi manfaat luas dan memberikan perubahan positif dalam perilaku serta kepribadian warga binaan.” ujar Kalapas
Melalui kegiatan ini, Lapas Perempuan Mamuju menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pembinaan yang menyeluruh, seimbang antara aspek kepribadian, keagamaan, dan keterampilan, sehingga warga binaan dapat menjalani masa pidana dengan lebih bermakna dan siap kembali ke masyarakat.